Sudah 2012, rasanya baru kemaren gue dateng ke UI bawa-bawa map (paling pagi) sebagai mahasiswa baru. Waktu cepet banget selesainya. Kayak hujan. Selama semester satu ini gue banyak belajar, sebagai anak yang baru lulus SMA gue nggak tau apa-apa soal kehidupan kampus, ehm bisa dibilang buta. Untung banyak orang yang kemudian ngajarin gue untuk bisa seperti sekarang, membagi cerita gue ke kalian.
Jujur, sebenernya gue adalah seorang anak sekolah yang benar-benar mengidamkan Ilmu Komunikasi sebagai tujuan gue di kuliah nanti. Tapi, Tuhan dan takdir giringnya ke FIB tuh. Apakah gue nyesel? Jawabannya, nggak sama sekali. Kenapa? Karena takdir yang gue rasain sekarang ini adalah takdir yang menyenangkan. Gue suka sekali dengan FIB dan segenap hegemonitasnya, budayanya, teman-temannya. Halo Genta, terima kasih sudah ngenalin gue ke anak-anak filsafat ya. It's such a pleasure to know you all. Hendra, Nova, Taufan dan teman-teman lain dengan segala keajaiban pola pikirnya haha.
Oke, sekarang gue mau cerita rutinitas gue selama tiga bulan ke belakang khusunya setelah gue bener-bener resmi ngampus di FIB. Ada apakah? Ya, sebagai Maba, gue wajib ambil bagian dalam berseni peran di Petang Kreatif FIB UI. Petang Kreatif ini tuh semacam lomba teater paling bergengsi di FIB karena 15 jurusan di sana semuanya ikut bertarung. "We compete for pride!" Itu yang dibilang senior gue.
Dari tiga bulan total latihan, satu bulannya dipakai untuk latihan fisik dan berperan. Sore di FIB selalu dipenuhi sama manusia-manusia absurd berkeringat. Malemnya? Selalu jeritan, entah itu bahagia atau nestapa. Kan ceritanya latihan peran. Haha. Setelah karakter mantap, kita di-casting dan dibentuk divisi-divisinya. Ada divisi pemain, kostum, make up, musik, dan blackman. Opo iku blackman? Nah, sesuai namanya yang "black", mereka ini kerjanya ketika lampu panggung itu mati. Errrr, blackman sejarah kuat-kuat lo, dalam waktu tiga detik satu orang sanggup mindahin tiga kursi kayu yang beratnya aja sanggup bikin lo ngucap istighfar. Setelah peran masing-masing divisi kuat, baru deh kita semua latihannya disatukan. Jadi membentuk suatu teater yang utuh. Oiya, nggak lupa. Dari awal latihan fisik pertama (yang besoknya bikin gue nggak sanggup bangun), kita semua udah dilatih untuk bernafas dan berbicara pake perut dan suara perut. Bingung? Iya sih, gue aja bingung. Intinya nanti suara perut inilah yang nentuin kegagahan kita di atas panggung #aseek. Tapi ini serius...
Sejarah yang biasanya nampilin cerita-cerita kolosal, tahun ini main dengan tema yang beda. Yaaa walaupun tetep sama sih intinya, masa lalu. Tahun ini teater kita nyeritain tentang tokoh HOS Tjokroaminoto, guru dari tokoh-tokoh penting dalam sejarah Indonesia kayak Soekarno, Kartosuwiryo, dan Semaun. Tapi Pak Tjokro kali ini ditampilkannya dalam sisi kelam sejarahnya yang kontroversial. Di sini beliau diceritakan mengkorupsikan uang Sarekat Islam untuk mmenuhi kebutuhan pribadinya, karena tuntutan terus menerus dari istrinya, Roestina (yang diperankan oleh saya haha). Menarik kan? Terlebih lagi karena ini fakta.
Yang menegangkan adalah ketika lo mendengar anak-anak jurusan lain yang kebetulan sedang latihan, suara perutnya lebih ketje dari suara perut jurusan lo. Itu benar-benar sangat memacu semangat untuk jadi lebih baik, lho. Apalagi kalo nggak sengaja ngeliat mereka gladi. Itu rasanya kayak pengen ngambang di danau UI.
I saved some pictures for you guys... (thought you wanna know) thanks to @sarr_a!
Ini nih juara satunya, Sastra Inggris. Selamat!!!!
Kalo yang ini teaternya Sastra Rusia, Sneevliet
Ki-ka: Alimin, Darsono, Tjokroaminoto, Muso, Semaun, Soekarno
Seneng banget rasanya bisa main teater di depan Sudjiwo Tedjo dan Ray Sahetapi yang malam itu mendapat kehormatan untuk menjadi juri. Wah, jancuk'e pol pisan lah iki!!!
Bermain teater itu tidak semudah yang dilihat, perlu jiwa untuk menjalaninya. Salut untuk FIB yang bisa terus mempertahankan tradisi Petang Kreatif ini, karena selain bisa mengeksplor kemampuan maba-maba macem gue ini bisa deket satu sama lain. Bahkan antar jurusan, haha. Sayang sekali waktu itu gue tidak diperbolehkan nonton sama sekali, senior bilang nonton penampilan teater jurusan-jurusan lain itu bisa nimbulin dua kemungkinan. Entah lo akan terpacu semangatnya atau malah down. Haha. Tapi bener-bener pengen nonton penampilan teaternya Filsafat, dari obrolan-obrolan jalan cerita mereka aja gue udah ngakak-ngakak. Juara dua lho mereka! Alhamdulillah juga teater Harta, Tahta, dan Praharanya Sejarah dapet juara Best Music dan Best Actor! Senangnya.... Semoga tahun depan prestasi dan euforia Festival Budaya ini lebih kenceng lagi karena asik banget lho nonton dan main teater itu...
Proud to be a part of this team.







0 comments:
Post a Comment